Tuesday, February 26, 2013

kurang lebih bagaimana yang aneh satu ini membicarakan tentang diri sendiri


((Ketika baru dikembalikan narasi diri oleh BK yang dikumpulkan di awal tahun ajaran. Terlalu melebih-lebihkan bagian Tuhan. Dan waktu itu sedang masa RP, jadi isi pikiran semakin aneh adanya.))

Ketika kau melihat dunia dari kacamata seorang gadis berumur 15 tahun yang kerap kali memutuskan untuk duduk menyendiri di tengah keramaian kelas di bangku terkiri, 3 baris dari belakang, telingamu tak akan menangkap bisingnya suara yang mengalir keluar dari sela bibir teman-temanmu. Ah, dan berbicara mengenai kacamata, hal satu itu memang diungkapkan secara eksplisit, mengingat kau akan menjadi sama dengan buta ketika benda yang telah bertengger di atas hidungmu sepanjang hari tersebut diangkat begitu saja.

Kau tidak begitu suka mengandalkan penglihatanmu yang jelas buruk itu. Kau lebih memilih mendengarkan mereka, atau – yang sering kali kau lakukan - tenggelam dalam pikiranmu sendiri, dalam  ide-ide dan jalan cerita yang telah kau bangun sedemikian rupa. Ketika kau tak tahu harus melakukan apa, otakmu akan berputar, menampilkan kilasan-kilasan adegan tertentu, mengenai si ini yang memutuskan untuk mengejar si itu hingga si kematian si dia dan tangisan sang kekasih.

Potongan-potongan puzzle, jika kau ingin menyebutnya demikian. Bahkan, terkadang sebuah nama akan mengalir keluar dari sela bibirmu, atau bahkan sepotong ucapan dalam script yang telah kau rancang sedemikian rupa.

Kemudian kerap kali kau mendapati dirimu tenggelam di dalamnya.

Ketika kau terbangun hingga tertidur malamnya, dapat dipastikan hal-hal macam itu akan muncul dalam otakmu. Ide-ide baru yang kau tunggu-tunggu, ataupun adegan favoritmu. Ketika kau memiliki waktu, kau akan menuliskan semuanya dengan kata-kata yang indah, terkadang menyadari betapa rumitnya kata yang satu dan betapa buruknya pendeskripsianmu.

Sekolah merupakan tempat yang menyenangkan, namun tak lebih dari sekedar itu. Kau selalu merasa tak berada di tempat yang benar. Terkadang kau selalu merasa berbeda, namun toh kau suka itu. Baik dari namamu hingga lagu favorit dan jalan pikiranmu. Kau menyukai bagaimana kau menyukai sejarah dan orang lain mengetahui itu, kerap kali mengernyitkan dahi mereka setelahnya. Kau menyukai bagaimana orang-orang menganggap namamu – Tanus – tekesan unik, karena unik memanglah kepribadian yang menjelaskan dirimu. Kau menyukai bagaimana kau memiliki masa depan yang telah terpikirkan dengan terperinci, walaupun terkadang kau menyadari bahwa hal tersebut sama dengan ketidakmungkinan dirimu untuk memiliki hal macam petualangan.

Kau mencintai IPS. Sejarah dunia, terutama, dan mengarang pula. Bahasa juga merupakan hal yang kau sukai. Jerman yang sedang kau pelajari, Itali yang telah kau pelajari selama 2 tahun, Prancis yang dulu kau pelajari di SMP, dan bahasa Inggris yang telah mendarah daging.

Ketika kau pulang ke rumahmu yang sepi, kau menemukan bahwa laptop adalah sahabat baikmu setelah musik. Tak dapat dilepas dengan mudah, bahkan kau yakin keberadaannya melebihi hal macam kucing perliharaan yang berjiwa. Keterlaluan? Bagimu tak juga, karena laptop ini adalah jendela duniamu, memperlihatkanmu dunia-dunia yang lain, tempatmu menuliskan segala adegan tersebut dan yang terpenting, tempatmu bertemu sosok yang kau rasa memiliki pandangan yang sama.

Kau menyukai keheningan. Ralat. Kau lebih menyukai keheningan yang kau dapat di tengah keramaian. Keheningan telah biasa kau dapat, mengingat kedua orang tuamu akan kembali malamnya. Makan malam bersama dan bertukar cerita. Kau menyukai saat itu. Momen kecil yang terasa penting bagimu. Kau menyukai bagaimana hubunganmu dalam keluarga kecil ini sangatlah erat, kendati dirimu tak memiliki seseorang yang disebut kakak ataupun adik.

Dan jangan lupakan teman-temanmu, mereka-mereka yang bertukar kata denganmu tiap harinya. Jangan lupakan mereka yang tak pernah kau temui wajahnya namun kau pegang dengan erat keberadaannya. Jangan lupakan keluargamu yang hanya kau temui sebulan sekali, namun tiap detik pertemuannya terasa sangat berarti. Dan jangan lupakan Tuhanmu, kendati religiositas bukanlah aspek terbaikmu, namun toh kau tetap mempercayai Dia yang telah memberikan semua ini dalam hidupmu.

- ST

No comments:

Post a Comment