Aku mau tertawa melihat kamu. Dipaksa mau berucap tapi bibir ini terasa kelu. Padahal sudah jatuh dua temanku karena malu ini. Bahkan tak bisa dibilang malu berucap, karena bibir ini terkatup rapat.
Jari ini yang mengucapkan. Jari ini yang punya lidah. Namun apa saja yang punya lidah, semuanya tak punya keberanian.
Tinggal 'enter' saja rasanya berat.
Lantas ketika berani. Lantas ketika kata terucap, kau tak pernah menoleh. Barulah aku sadar mengapa bibir ini kelu tatkala hendak berucap.
Dan suara amat manis dari surga sana memenuhi udara.
"Kau bisu, cinta. Hingga akhir hayat pun yang bisu tak akan bersuara. Dan memang kamu terlahir bisu. Kepadanya kamu jelas bisu."
Padahal setelahnya berteriak pun aku bisa. Lantas kaulah yang tuli. Yang tak pernah mendengar kata-kataku.
Kau tak mendengar karena memang tak bisa. Kau tuli. Tuli. Tuli. Tuli.
Dan selang beberapa waktu lantaran kau bersuara. Mengejekku benar ketika aku mendengarnya. Mengejekku dengan suaramu yang kutunggu-tunggu.
Lantas kaukah yang tuli atau aku yang bisu?
Aku berjanji akan selalu tertawa ketika kau berbicara.
No comments:
Post a Comment