((Ketika baru dikembalikan narasi diri oleh BK yang dikumpulkan di awal tahun ajaran. Terlalu melebih-lebihkan bagian Tuhan. Dan waktu itu sedang masa RP, jadi isi pikiran semakin aneh adanya.))
Ketika kau melihat dunia
dari kacamata seorang gadis berumur 15 tahun yang kerap kali memutuskan untuk
duduk menyendiri di tengah keramaian kelas di bangku terkiri, 3 baris dari
belakang, telingamu tak akan menangkap bisingnya suara yang mengalir keluar
dari sela bibir teman-temanmu. Ah, dan berbicara mengenai kacamata, hal satu
itu memang diungkapkan secara eksplisit, mengingat kau akan menjadi sama dengan
buta ketika benda yang telah bertengger di atas hidungmu sepanjang hari tersebut
diangkat begitu saja.
Kau tidak begitu suka
mengandalkan penglihatanmu yang jelas buruk itu. Kau lebih memilih mendengarkan
mereka, atau – yang sering kali kau lakukan - tenggelam dalam pikiranmu
sendiri, dalam ide-ide dan jalan cerita
yang telah kau bangun sedemikian rupa. Ketika kau tak tahu harus melakukan apa,
otakmu akan berputar, menampilkan kilasan-kilasan adegan tertentu, mengenai si
ini yang memutuskan untuk mengejar si itu hingga si kematian si dia dan
tangisan sang kekasih.
Potongan-potongan puzzle, jika kau ingin menyebutnya
demikian. Bahkan, terkadang sebuah nama akan mengalir keluar dari sela bibirmu,
atau bahkan sepotong ucapan dalam script yang
telah kau rancang sedemikian rupa.
Kemudian kerap kali kau
mendapati dirimu tenggelam di dalamnya.
Ketika kau terbangun
hingga tertidur malamnya, dapat dipastikan hal-hal macam itu akan muncul dalam
otakmu. Ide-ide baru yang kau tunggu-tunggu, ataupun adegan favoritmu. Ketika
kau memiliki waktu, kau akan menuliskan semuanya dengan kata-kata yang indah,
terkadang menyadari betapa rumitnya kata yang satu dan betapa buruknya
pendeskripsianmu.
Sekolah merupakan tempat
yang menyenangkan, namun tak lebih dari sekedar itu. Kau selalu merasa tak
berada di tempat yang benar. Terkadang kau selalu merasa berbeda, namun toh kau
suka itu. Baik dari namamu hingga lagu favorit dan jalan pikiranmu. Kau
menyukai bagaimana kau menyukai sejarah dan orang lain mengetahui itu, kerap
kali mengernyitkan dahi mereka setelahnya. Kau menyukai bagaimana orang-orang menganggap
namamu – Tanus – tekesan unik, karena unik memanglah kepribadian yang
menjelaskan dirimu. Kau menyukai bagaimana kau memiliki masa depan yang telah
terpikirkan dengan terperinci, walaupun terkadang kau menyadari bahwa hal
tersebut sama dengan ketidakmungkinan dirimu untuk memiliki hal macam
petualangan.
Kau mencintai IPS.
Sejarah dunia, terutama, dan mengarang pula. Bahasa juga merupakan hal yang kau
sukai. Jerman yang sedang kau pelajari, Itali yang telah kau pelajari selama 2
tahun, Prancis yang dulu kau pelajari di SMP, dan bahasa Inggris yang telah
mendarah daging.
Ketika kau pulang ke
rumahmu yang sepi, kau menemukan bahwa laptop adalah sahabat baikmu setelah
musik. Tak dapat dilepas dengan mudah, bahkan kau yakin keberadaannya melebihi
hal macam kucing perliharaan yang berjiwa. Keterlaluan? Bagimu tak juga, karena
laptop ini adalah jendela duniamu, memperlihatkanmu dunia-dunia yang lain,
tempatmu menuliskan segala adegan tersebut dan yang terpenting, tempatmu
bertemu sosok yang kau rasa memiliki pandangan yang sama.
Kau menyukai keheningan.
Ralat. Kau lebih menyukai keheningan yang kau dapat di tengah keramaian.
Keheningan telah biasa kau dapat, mengingat kedua orang tuamu akan kembali
malamnya. Makan malam bersama dan bertukar cerita. Kau menyukai saat itu. Momen
kecil yang terasa penting bagimu. Kau menyukai bagaimana hubunganmu dalam
keluarga kecil ini sangatlah erat, kendati dirimu tak memiliki seseorang yang
disebut kakak ataupun adik.
Dan jangan lupakan
teman-temanmu, mereka-mereka yang bertukar kata denganmu tiap harinya. Jangan
lupakan mereka yang tak pernah kau temui wajahnya namun kau pegang dengan erat
keberadaannya. Jangan lupakan keluargamu yang hanya kau temui sebulan sekali,
namun tiap detik pertemuannya terasa sangat berarti. Dan jangan lupakan
Tuhanmu, kendati religiositas bukanlah aspek terbaikmu, namun toh kau tetap
mempercayai Dia yang telah memberikan semua ini dalam hidupmu.
- ST