Tuesday, January 21, 2014

5 Fiksi 1 Fakta

Gagal Move On 1

Kita bertemu di sisi danau. Aku akui aku kekanak-kanakan waktu itu, karena kita berakhir dengan pakaian basah. Kupikir itu sesuatu yang lucu namun kusadari itu kekanak-kanakan sekarang. Tak tahukah kau bahwa semenjak saat itu aku tidak bisa melupakan langit sore hari? Berulang aku coba lukiskan itu semua di atas kanvas, hanya untuk mengingat seperti apa rasnaya berada di sisimu. Hanya saja aku tak pernah bisa, dan itu membuatku frustasi.
Aku mencarimu di tahun ajaran baru waktu itu. Aku mencarimu di tengah keramaian, dan itulah yang terus menerus kulakukan setelahnya. Mencarimu seorang dan langit sore hari waktu itu.
Namun tentu saja mereka bilang kau milik dia. Kata mereka kau cocok dengannya. Ia ratusan kali lebih hebat dariku dengan bola basketnya. Dan aku ini apa? Anak teladan aneh yang meraung kesakitan tiap beberapa menit sekali karena sakit di telinga jahanam itu.
Tahukah kau bahwa aku tak pernah bisa melupakanmu, kisah musim panasku?

Gagal Move On 2

Aku hanya bertemu denganmu sekali. Cukup sekali, dan saat itu kau tengah meringis kesakitan. Setan kecil yang kau sebut teman itu menendang kakimu yang bengkak dan aku hanya tertawa dan duduk di sisimu setelahnya. Aku cuma bertemu denganmu sekali untuk tahu bahwa kau sepertiku. Bahwa aku bisa menyukaimu dan kau bisa menyukaiku. Untuk tahu bahwa aku tak akan bisa melupakanmu dengan mudah, walau semua yang kau lakukan hanyalah menghilang dari hadapanku.
Tahukah kau bahwa aku melipat seribu burung kertas untukmu? Kau tak pernah tahu, sayangnya, karena kau tak pernah mengenalku.
(Dan aku pun tak pernah mengenalmu)

Dia 1

Aku selalu memerhatikanmu walau kau tak tahu. Aku menaruh hati padamu, karena kau begitu nyata di mataku. Kau berkata sesuatu yang buatku berharap, dan itu buatku senang bukan kepalang. Namun bukankah itu kata yang sama seperti yang kau sampaikan pada dia? Pada junior favoritmu itu? Apa yang dia punya yang aku tidak?
Ya, dia sempurna (sekali lagi aku sadar itu). Dia anak polos baik hati yang dicintai semua orang. Kehadirannya selalu buat senyum di wajah semua. Sedang aku adalah bayangan yang tak begitu diperhatikan orang. Aku berjuang, kau tahu. Untuk jadi yang utama untuk dilihat banyak mata. Milikmu terutama, karena semenjak kepergiannya aku ingin beri kau seribu burung kertas itu.
Karena aku berharap yang kau ajak keluar itu dia.
(Malam di perpustakaan itu jadi penyesalan terbesarku)

Dia 2

Aku tahu aku brengsek. Aku tahu kau pantas dapat yang lebih daripadaku, yang hanya ingin mencoba bibirmu dan mencampakkanmu setelahnya. Maafkanlah aku. Aku telah mencoba mencintaimu dengan sungguh. Kukatakan bahwa 12 hari itu berarti lebih buatku dan semoga itu berarti yang sama pula untukmu. Sejujurnya kuberkata bahwa kau pantas mendapatkan dia. Karena dia memang lebih pantas dari aku yang jahanam ini. Cintailah ia dan berbahagialah tanpaku. Maafkanlah aku yang selalu membenci tiap kau berada di sisi yang lain.
Dan waktu itu kau tanya mengapa aku cerita padamu soal ciuman itu. Aku sedih, anak lucu. Aku tidak tahu harus berkata apa dan aku mencoba untuk mencari perhatianmu. Caraku salah. Aku adalah seseorang yang buruk, sungguh. Dan kau pantas dapat yang lebih daripada ini.

Dia 3

Aku memerhatikanmu pula layaknya dia. Aku tidak mau mengakuinya namun perlahan aku tahu bahwa aku menyukaimu. Namun sekali lagi aku dihadapkan pada kenyataan, bahwa mereka menginginkanmu dengan orang lain ketimbang aku. Karena kata mereka kalian berdua sangat cocok satu sama lain. Kata mereka kalian sangatlah indah bersama. Tak bisakah kau indah bersamaku?
Hati ini hancur perlahan tiap mereka bicara soal kalian. Tidak ada aku dalam kalian dan tidak akan pernah ada. Tidak akan pernah ada kau dan aku, dan aku harus hidup dengan kenyataan itu.

Dia 4

Aku harus mengucapkan selamat tinggal pada Ferrari 458-ku.

No comments:

Post a Comment