Tuesday, February 25, 2014

Teruntukmu yang Terkasih

((Di bawah ini kutulis surat cintaku untukmu yang terkasih dengan penuh senyum dan cinta))

Aku belajar untuk mencintaimu. Dengan sepenuh hati aku mencoba. Tak tahukah kamu bahwa yang lain telah menghujat engkau? Menghujamimu dengan belati dan menabur garam di atas lukamu? Dan aku. Aku adalah yang berdiri di sisimu dengan tegar, mengusap punggungmu perlahan dan menyeka air matamu. Aku membalut lukamu dan beri kau kehangatan.

Aku berteriak pada mereka! Kubilang bahwa kau masih ada indahnya. Kubilang bahwa kau masih ada artinya.

Namun apa jawabmu, sekali lagi?

Senyumku itu bernilai apa bagimu? Sampah yang kau injak dengan mudahnya oleh sepatu hak kotormu itu? Sapa dan hormatku kau anggap apa? Kau pikir kau bisa dapat yang seperti itu ribuan kali. Kuulang fakta ini buatmu.

TIDAK ADA YANG MENCINTAIMU!

Dan aku jijik denganmu. Aku muak. Bagaimana mungkin di dunia ada orang seperti engkau. Yang mengakud diri mengemban sesuatu yang mulia. Kau buat aku ingin muntah. Kalau bisa biarlah aku melakukannya di atas wajah tulusmu itu.

Hatiku pun pedih ketika aku menulis kata-kata ini. Bagus, setidaknya aku masih punya hati nurani. Sedangkan engkau? Kurasa engkau tak punya.

Kalau bahasanya kau sering bicara padaku untuk ini dan itu, untuk melakukan 'hal-hal' yang memanusiawikan aku, maka aku ulang kata-katamu itu kepada dirimu sendiri. Camkanlah kutukan yang mengalir dari bibirku dan ingatlah dengan batok kepalamu itu.

Apa kau masih pantas sebut dirimu manusia?

Menyandang hadiah pemberian dia yang dipuja. Hentikanlah lelucon picisanmu ini, karena tidak lagi aku menemukan bahwa hal ini lucu.

No comments:

Post a Comment