Lewat tengah malam dan aku mendengar mereka bercakap-cakap di luar. Suara mereka dan derap langkah lalu lalang terdengar. Padahal bentuk rupa pun tak punya. Bagaimana mungkin bisa punya langkah kaki?
Ababil benar mereka semua. Satu titik mereka tertawa dengan sopran tinggi memekik yang buat pekak telinga. Berikutnya ganti mereka menangis. Dan selalu yang dara yang buat tarik perhatian. Sekali-kali bolehlah yang kaum adam ganti tarik suara.
Simfoni itu terdengar berulang kali. Waktu tamasya mereka ke dunia yang hidup. Anggapannya bak tetangga sebelah dari Australia datang ke Bali.
Layaknya penumpang gelap. Karena kedatangan mereka tak pernah diinginkan. Melanggar sudah mereka batas kekuasaan saya. Padahal sudah saya buat kesepakatan dengan sang pemilik dunia lain sana. "Tamasya cuma malam Jumat Kliwon. Selainnya saya tak terima karena saya mau tidur nyenyak."
Tapi tetap saja dilanggar dan toh itu buat muak juga.
Pesta kembali dimeriahkan dengan yang berkoak di atas. Seakan ia berkata "pemilik rumah ini akan meregang nyawa esok". Binasa saja kau wahai burung hitam. Tak indahnya juga nyanyianmu. Sama saja seperti yang di luar sana.
Aku muak dengan kalian semua. Cepatlah berlalu wahai jam tiga. Dan biarlah yang menyingsing esok hari sirnakan najis kalian. Besok pastor datang membawa air. Visa kalian sudah kadalursa katanya. Saatnya deportasi.
No comments:
Post a Comment