Alkisah malam itu ia kembali menari.
Sang gadis pendiam yang tak ubahnya seorang bisu. Mungil dan kecil. Hanya satu dua kali mencicit 'ya' dan 'tidak'. Oh, semua kenal gadis itu. Yang kalau duduk ada di ujung sana. Aku pun tahu. Namun di saat yang sama aku juga tak tahu. Tahu nama. Tahu siapa. Cuma itu.
Pada malam bisu tak ada yang menduga ia menari. Kakinya bernyanyi dengan tiap perjumpaan dengan lantai dansa. Kekasih yang bergandeng tangan dengannya mahir gemilang. Mengangkat tubuh mungil tersebut ke atas langit malam. Aku mau menangis melihatnya menari.
Yang lain hanya menggeleng-geleng kepala.
"Kau sebut ini apa?"
"Aku muak melihatnya."
"Duduklah kembali ke sudut sana dan berhenti mempermalukan dirimu sendiri."
"Cinta, malangnya nasibmu. Tak tahukah kamu kita siap tertawa?"
Lantas aku heran. Mengapa yang seindah itu bisa dicemooh sedemikian rupa.
Aku berdiri. Dengan nyala api di mata dan mulut berbusa, aku berkata-kata.
"Kalian yang bodoh nian. Butakah kalian semua? Aku sebut ini tarian dan tak ada yang seindah ini. Lihatlah kedua kaki jenjangnya, mencipta gambar di muka lantai. Aku tak bilang ini menari. Aku mau katakan bahwa ini dekat dengan terbang. Tak bisakah kalian merasakannya? Atau aku yang bodoh karena berbicara dengan monyet yang tak tahu nilai estetika."
Aku malah dibalas dengan tatapan bingung. Heran aku dengan mereka semua. Mungkin benar mereka bodoh. Mereka perlahan berdiri kemudian menatapaku dengan rasa iba. Seakan akulah sang gadis mereka menepuk pundakku. Ganti air mata yang mengalir di tiap-tiap wajah. Aku dikelilingi oleh mereka dengan alis terangkat.
"Kamu tidak apa?" aku malah ditanya begitu. Aku disuguhi minum, ditepuk ratusan kali di bahu. Diberi kata "tenang" dan "tabah" ribuan kali. Barulah mereka mendorong kursi, mengangkatku ke atas ranjang dan menidurkanku di kamar.
Malamnya aku bermimpi lagi akan sang gadis. Kusaksikan lagi keindahan yang terlahir dari dirinya. Seakan tarian itu adalah dirinya. Indah adalah segala yang mengalir dalam dirinya. Malam itu aku turut menari bersamanya. Menempel bak bayangan. Aku penggemarnya sekarang. Aku mau jadi dia. Aku beri apa pun untuk jadi dia.
Esoknya ia kembali jadi yang duduk di sudut. Kembali jadi sang gadis pendiam yang tak ubahnya seorang bisu. Mungil dan kecil. Hanya satu dua kali mencicit 'ya' dan 'tidak'. Oh, semua kenal gadis itu. Yang kalau duduk ada di ujung sana. Aku pun tahu. Namun di saat yang sama aku juga tak tahu. Tahu nama. Tahu siapa. Cuma itu.
Kemudian kali ini gadis lain berbicara di luar kamar. Aku tak sengaja mendengarnya dari dalam.
"Aku kasihan dengan gadis itu. Kalau mobilnya tak ditabrak truk molen kemarin dulu sampai penyok mungkin ia masih bisa pakai sepatu. Sekarang kerjanya setiap hari hanya duduk di sudut. Hanya satu dua kali mencicit 'ya' dan 'tidak'. Oh, semua kenal gadis itu."
No comments:
Post a Comment