Saturday, April 27, 2013

Nyanyian Untuk Para Sampah

Terkadang tak ingin aku menyebut kalian sampah karena kalian pantas mendapatkan yang lebih rendah dari itu. Jika ada yang terbawah itulah kalian. Jika ada yang ternajis itulah kalian.

Inilah susahnya jika sampah diberi mulut dan kemampuan bicara karena yang terlontar hanyalah kotoran binatang. Apalagi jika yang menjadi sampah itu merasa diri berderajat. Maaf saja. Untuk berada di alas sepatu pun aku tak sudi. Untuk menatapmu pun aku merasa najis.

Marilah kuelu-elukan kalian dengan kata-kata pujian ini. Yang kurangkai sedemikian rupa untuk kalian para sampah. Oh tiap hari kuhabiskan waktu mendengar omong kosong kalian. Menunggu saat ketika bisa menampar wajah satu per satu. Dengan bibir berteriak, "Sadarkah kalian?!"

Rasa-rasanya itu terlalu baik. Karena jika dipikir-pikir lagi, menyentuh kalian pun aku merasa diri hina. Ya, ya, kuludahi saja kalian di wajah. Kukibaskan debu di hadapan dan kubalik punggungku. Sayangnya kalian tak akan mengerti maksud perkataanku. Apa yang kiranya bisa kau harapkan dari sampah? Yang hanya bisa bercuap-cuap. Dengan kurva bibir tertekuk dan tatapan kosong. Ku tak ragu menyamakan kalian dengan para idiot.

Sok tahu. Dan masih ada yang berani menyebut diri di atas. Senyumku terkembang dan besar hatiku. Pastilah hujaman kata ini jadi perasaan nikmat di ulu hati. Injakan kakiku di atas liang kuburmu. Aku akan menari dengan riang. Menabuh rebana untuk tiap eranganmu. Tertawa untuk tiap ratapanmu. Gelak tawaku akan jadi yang kau dengar, seiring tiap pisau menyayat tubuh.

Jika aku diberi kesempatan, tanpa ragu kuukir tiap rasa sakit di tubuhmu. Kupahat dengan amat sempurna di atas kulit. Hingga orang lain bisa melihat, "Aku sampah yang tak tahu diri. Aku tak ubahnya tuhan dan semua orang harus tahu itu." Aku ingin menelanjangimu. Mempermalukanmu adalah harapanku. Menyiksamu adalah cita-citaku. Kebahagiaanku adalah penderitaanmu.

Wahai sampah yang tak tahu diri dengarlah nyanyianku. Dengarlah pujianku untuk kalian, angkatan rendah tak berotak. Untuk kalian, para kubangan lumpur. Tak berpendirian. Kalian para dewa yangdielu-elukan. Dengarlah rintihan dan ratapan. Derau suara dan pernyataan rasa. Dengarlah suara kami hamba-hambamu dan ketahuilah betapa kami mencintai kalian.

*dan kami pun tersenyum*

No comments:

Post a Comment